2
Muda Berkacamata Petani | [caption id="attachment_152" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : noor w.i.p."]sawah[/caption]

Minggu (10/6/11) lalu, saya berbincang-bincang dengan beberapa petani di daerah Sanden. Banyak hal yang diungkapkan dari mereka. Dari mulai yang menyedihkan sampai yang menyenangkan, dari kegagalan sampai keberhasilan yang dialami oleh petani. Ada yang pesimis dengan kondisi pertanian yang tidak menentu, tetapi juga banyak yang optimis memandang masa depan pertanian yang akan membaik. Ada petani yang mengatakan pertanian merupakan bisnis yang prospek kedepannya tak akan habis, karena manusia akan selalu butuh makan.

Salah satu hal yang selalu menarik perhatian saya adalah kehidupan petani. Mengapa? Mungkin pertanyaan ini sering terungkap dalam kepala. Saya memang bukan anak dari petani tetapi cucu dari petani, banyak tetanggaku juga petani dan yang jelas kita butuh petani untuk memenuhi kebutuhan akan pangan. Abraham Maslow dalam teori kebutuhannya menempatkan kebutuhan pangan pada hierarki yang pertama yaitu kebutuhan fisiologis.

Sebuah teori dari Thomas Robert Malthus yang menyatakan bahwa jumlah penduduk cenderung meningkat secara deret ukur sedangkan penyediaan kebutuhan hidup riil meningkat secara deret hitung. Inilah salah satu hal yang mendasari bagaimana pentingnya penyediaan pangan yang menjadi kebutuhan riil harus dipikirkan. Dengan tidak berimbangnya peningkatan jumlah penduduk dengan peningkatan pangan yang tersedia akan sangat berpotensi terjadi tekanan persaingan pemenuhan kebutuhan pangan. Kelaparan adalah isu yang paling ekstrim, jika pertanian tidak terurus dengan baik.

Bagi kaum muda, belajar dan menimba ilmu bagi kemajuan pertanian adalah hal yang dapat dilakukan. Bila mampu, mengaplikasikan dilapangan adalah hal yang lebih baik. Pertanian merupakan suatu sistem, bukan sekedar menanam, tetapi melibatkan semua aspek kehidupan. Dari mulai memproduksi bahan pangan, mengolah, sampai menyalurkan ke masyarakat.

 

Referensi :

http://organisasi.org/teori_hierarki_kebutuhan_maslow_abraham_maslow_ilmu_ekonomi

http://www.scribd.com/doc/47965301/Teori-Kebutuhan

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=4319&Itemid=29

diakses 11 Oktober 2011
readmore »
2
Suatu Hari, Ketika Kemiskinan Telah Di Museumkan | [caption id="attachment_142" align="alignleft" width="150" caption="koperasi kelapa"]koperasi kelapa[/caption]

Suatu pengalaman yang tak pernah terlupa dalam ingatanku, ketika harus mendampingi warga Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah, dalam membangun koperasi dan bisnis pengolahan kelapa terpadu selama dua bulan. Koperasi yang mengolah kelapa menjadi asap cair, cocofiber, cocodust, virgin coconut oil atau VCO, dan nata de coco.

Dua bulan bukanlah waktu yang panjang, terasa sangat singkat. Pada bulan pertama kami sangat kesulitan mengajak warga untuk berbisnis. "Apa yang menjadi permasalahan?". "Tidak ada modal", pertanyaan dan jawaban klasik tentunya. Persoalan klasik ini selalu membelit warga, mengapa demikian? Menurut saya adalah warga masih takut untuk berinvestasi pada sesuatu yang baru, mereka takut akan resiko yang harus ditanggung bila gagal. Bagai mana cara mengajak warga ikut berbisnis. Saat itu kami hanya memiliki uang 1,5 juta.

[caption id="attachment_143" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : koperasi Sun Coco"]penjualan nata decoco[/caption]

Yang terbersit dalam benak kami saat itu adalah nama Muhammad Yunus dari Bangladesh. Akhirnya dengan uang 1,5 juta kami memberikan pinjaman dalam bentuk kelapa dan beberapa peralatan, dengan setiap warga mendapatkan pinjaman 25 butir kelapa dan satu toples. Pembayaran? terserah mau dibayar kapan saja, mau dibayar dengan cara di angsur silahkan, mau dibayar kapanpun silahkan. Kenyataannya para warga antusias dan hasil yang kami impikan mulai tampak. Bisnis berbasis koperasi warga.

Siapakah Mohammad Yunus? Dialah yang meraih Nobel perdamaian 2006. Memperkenalkan bisnis berbasis sosial, dimana perusahaan besar melibatkan secara langsung masyarakat bisnis sebagai pemasok, pengolah sekaligus pangsa pasar. Dengan membangun konsep kredit tanpa agunan bagi kaum miskin, yang digunakan untuk menjalankan bisnisnya dalam suatu kelompok-kelompok. Targetnya adalah perempuan dan kaum miskin.

Di Indonesia Ternyata juga ada, Masril Koto namanya. Seseorang yang dengan berusaha keras membangun pertanian dari bawah. Keinginan untuk membantu petani miskin untuk lepas dari kemiskinan terwujud dalam bentuk Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis. Yang meminjamkan bagi kaum petani kredit tanpa agunan.

"One day our grandchildren will go to museums to see what poverty was like" (Muhammad Yunus, May 5th 1996, The Independent).

Semoga kemiskinan cepat-cepat dimuseumkan di negriku Indonesia tercinta.

 

Referensi :

http://www.binaswadaya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=103&Itemid=37&lang=in_ID

http://donowidiatmoko.wordpress.com/2006/10/13/nobel-untuk-muhammad-yunus-dan-grameen-bank/

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/09/30/bonsai-people-lanjutan-misi-sosial-muhammad-yunus/

http://kickandy.com/theshow/1/1/1975/read/TAK-ADA-YANG-TAK-BISA/5

http://www.krjogja.com/news/detail/53010/Geliat.Warga.Petanahan.Memanfaatkan.Kelapa.html

http://politik.kompasiana.com/2010/11/04/masril-koto-sosok-pahlawan-petani-indonesia/-12

http://www.voanews.com/indonesian/news/Bangladesh-Pecat-Pemenang-Nobel-Muhammad-Yunus-117285208.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yunus

http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Yunus
readmore »
0
Ketika Insomnia Datang |
jam
jam

Tik..tok..tik..tok.. begitu jamku berdendang


Sudah jam 01:50


Terus berdetak dan bergerak sangat lambat, hampir berhenti rasanya


Namun isi kepalaku berputar cepat sekali, aku tak tahu apa yang berputar saat ini


Wer..wer..wer..wer.. kipas anginku menggumam


Terdengar berisik di telingaku


Entah sudah berapa lama tidak kubersihkan, aku sudah tidak ingat


Seperti isi kepalaku, berisik dan lama tak kubersihkan saat ini


Bla..bla..bla.. televesiku bercerita


Tak lelah-lelahnya bercerita, bahkan telingaku sudah jenuh mendengarkannya


Apa yang diceritakan bahkan tak kumengerti


Semakin lama semakin jenuh dibuatnya saat ini


Makin kurasakan makin tidak bisa terpejam mata ini


Otakku bergerak kesana kemari tak bisa diam


Badanku sudah teramat lelah dan capek


Dan pagi hari telah menyapa


Ah....entah sampai kapan mata ini bisa terejam




from my old blog


Jaran Bodo

readmore »
2
Kegelisahan Hati Pasar Tradisional | [caption id="attachment_88" align="alignleft" width="184" caption="Foto by : noor w.i.p."]masak[/caption]

Salah satu hobby yang telah lama saya tekuni adalah memasak. Agak aneh memang tapi saat ini wajar kalau laki-laki juga punya hobby memasak, tapi jelas ditemani teman dekat saya tentunya. Satu hal yang saya senangi dari hobby ini adalah saat mempersiapkan bahan-bahannya. Dari mulai membeli sayuran, bumbu dan segala keperluannya, sampai memotong sayur dan menghaluskan bumbu.

Setiap kali membeli bahan-bahan untuk memasak terutama sayuran, saya lebih memilih di warung-warung kecil kalau perlu ke pasar tradisional. Sering teman dekat-ku bertanya "Kok ngak belanja di supermarket aja? kan lebih sayurannya lebih segar dan bagus, sejuk lagi" (iya sejuk, kan semua supermarket ber AC- pikirku). Dan jawabanku akan selalu sama "Aku lebih senang melihat senyuman penjual sayuran". Karena sering aku menjawab dengan kalimat yang sama, ketika dia bertanya lagi dan belum sempat aku jawab dia sudah menimpali, "Iya-iya aku sudah tahu jawabannya" (mulai berbakat menjadi cenayang).

Mungkin jawabanku sederhana tetapi saya memiliki alasan untuk demikian (mulai serius). Begini, bayangkan saja ada 13.450 pasar di Indonesia yang menghidupi 12.625.000 pedagang dan bila ditambahkan pedagang tradisional lain mencapai 17,1 juta pedagang. Jika setiap pedagang menanggung 3 orang anggota keluarga dan 3 orang pekerja ada 102,6 juta jiwa yang menggantungkan hidup dari hal tersebut.

Namun, apa yang terjadi akibat menjamurnya pasar modern? Dari beberapa data penelitian AC Nielson menunjukkan pasar retail modern meningkat dari 31,4% per tahun sedangkan pasar retail tradisional menurun 8,1%. Jika dibiarkan terus tentunya kita tahu apa yang akan terjadi. Dan dikemanakan 102,6 juta jiwa tersebut?

Bagi saya senyum kebahagiaan dari 102,6 juta jiwa ini lebih indah dibandingkan segarnya sayuran dan sejuknya AC di supermarket. Saya bukan anti supermarket, tetapi saya lebih senang melihat siMbok, pakDe, buDe, pakLek, buLek dan tetangga-tetanggaku tersenyum.

 

Referensi bacaan :

Ananta H. Pramono, Awan Santosa dan Phutut Indroyono, 2011, Menahan Serbuan Pasar Modern : Strategi Perlindungan dan Pengembangan Pasar Tradisional, LOS-DIY.

http://www.mudrajad.com/upload/pasr%20modern%20tradisional-KADIN-107-2998-18072008.pdf

http://www.smecda.com/kajian/files/jurnal/Hal_85.pdf

http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2010/09/22/pasar-tradisional-vs-pasar-modern-perjuangan-vs-mimpi/

http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/read/2009/07/30/1937/9/Pasar-Tradisional-Vs-Pasar-Modern
readmore »
2
Pasar Malam dan Kegembiraan | [caption id="attachment_72" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : noor w.i.p."]pasar malam[/caption]

Ketika saya berkunjung ke rumah teman dekat di daerah Sruweng, Kebumen, Jateng, beberapa hari yang lalu, diajaklah saya ketempat yang dinamakan pasar malam. Bukan hal baru bagi saya, atau lebih tepatnya sudah lama saya mengenal apa itu pasar malam.

Pasar malam ... apakah itu? gampangnya pasar malam adalah pasar yang melakukan transaksi barang dan jasa di malam hari. Di Indonesia dan beberapa negara tropis asia sering mengadakan pasar malam. Pasar malam bukan sekedar menjual barang kebutuhan sehari-hari saja, di Indonesia juga menawarkan jasa-jasa permainan, atraksi, dan tontonan yang menarik. Ada ombak banyu, komedi putar, tong setan (bukan tong yang diisi setan lho...) dan banyak yang lainnya.

[caption id="attachment_73" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : noor w.i.p"]pasar malam[/caption]

Mengapa pasar malam? Kemajuan jaman saat ini menumbuhkan konsep bisnis yang lebih mendahulukan keuntungan sebesar-besarnya, yang merambah ke dunia hiburan. Bila kita lihat sekarang, dengan berdirinya konsep mall, yang saat ini juga menawarkan hiburan didalamnya, mulai menggeser kebutuhan hiburan masyarakat. Bagi kalangan tertentu akan lebih memilih ke mall untuk mencari hiburan dari pada ke tempat lain. Walaupun mahal.

Bagi kalangan menengah ke bawah, untuk memenuhi kebutuhan hiburan tentunya akan lebih memilih yang lebih murah. Pasar malam salah satu tempat yang menawarkan hal tersebut. Walau murah tetapi banyak hiburan yang ditawarkan. Kegembiraan lebih terpancar dari wajah mereka dari yang dewasa sampai anak-anak. Semoga kegembiraan ini tidak pernah terhapus.
readmore »
7
Tentang Memancing Vs Enceng Gondok | [caption id="attachment_66" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : noor w.i.p."]calon pemancin pro[/caption]

Salah satu hobby saya adalah memancing. Entah itu memancing di laut, sungai, kolam (bukan kolam renang), yang penting ada ikannya dan bukan memancing kerusuhan mestinya. Sabtu-minggu lalu saya mencoba spot baru (saran dari teman) di Embung Kalibayem, Sono Pakis, Yogyakarta. Kalau mau tempatnya, coba aja cari di mbah google pasti ketemu lewat wikimapia.org. Namun agak menyedihkan acara memancing kali itu. Banyak orang (pemancing) lain dengan santai dan enaknya dapet strike, tetapi kailku sama sekali gak disentuh. Dari pagi sampai siang sama sekali tak ada strike, dan itu berulang selama dua hari. Yang kudapat hanya kulit yang terbakar matahari. Menyedihkan, mungkin itu kata yang tepat.

Lalu apa hubungannya dengan memancing dan enceng gondok? ahhh... mungkin itu pertanyaan yang muncul. Begini, Embung Kalibayem merupakan bendungan yang tidak terlalu besar alias kecil. Yang dimanfaatkan untuk pengairan di daerah sekitarnya. Dan seperti banyak tempat, terdapat permasalahan yang timbul yaitu tumbuhnya enceng gondok yang makin lama makin tak terkendali.

[caption id="attachment_68" align="alignleft" width="150" caption="Foto by : noor w.i.p."]enceng gondok[/caption]

Enceng gondok (Eichhornia crassipes) merupakan tumbuhan yang mengapung di air. Berasal dari Brazil dan telah tersebar di berbagai tempat. Beberapa laporan menyatakan bahwa pertumbuhan enceng gondok menjadi sangat cepat akibat dari air (danau, rawa, dst.) telah mengandung banyak nutrien terutama fosfat, kemudian nitrogen, potasium, dan karbon atau lebih dikenal dengan bahasa lebih keren disebut Eutrofikasi. Eceng gondok berpotensi menghilangkan air permukaan sampai empat kali lipat jika dibandingkan dengan permukaan terbuka. Selain itu juga akan mengurangi Oksigen terlarut dalam air, akibatnya jelas ikan-ikan akan mati dan tak mau hidup di area tersebut (kecuali beberapa ikan yang mampu beradaptasi, contohnya ikan sapu-sapu yang hampir tidak dapat dimakan).

Pertanian menjadi tersangka utama dalam masalah ini. Mengapa? Jelas penggunaan pupuk-pupuk secara berlebihan, terutama didaerah hulu. Keinginan petani untuk mendapatkan hasil yang tinggi sehingga menggunakan pupuk buatan (anorganik) dengan dosis yang tinggi melampaui yang di rekomendasikan, menjadi bumerang bagi petani. Eutrofikasi, kerusakan tanah dan banyak hal negatif yang lain menjadi masalah baru.

Penanggulangan dari masalah yang berlarut-larut ini, untuk pertanian, dimulai dari pengurangan penggunaan pupuk anorganik dan beralih menggunakan pupuk organik, terutama dengan penggunaan pupuk kandang dan pupuk kompos. Dimana nutrien yang terkandung dalam pupuk tidak mudah tercuci, namun dapat tersedia bagi tanaman.

Enceng gondok yang bikin kesal ini ternyata saat ini mampu dimanfaatkan. Dari mulai pupuk kompos, barang-barang perabotan dan kerajinan tangan, bahan pembuatan kertas, sebagai medium tumbuh jamur, bahkan untuk pembuatan bioenergi atau biogas. Yang jelas dengan begitu tanaman yang mengesalkan (terutama bagi pemancing) ini dapat dikendalikan.

Hmmm... kalau enceng gondoknya sudah berkurang pastinya acara memancingnya akan lebih mantap. Banyak ikan yang dapat berkembang biak dan jelas kejadian dua hari tanpa strike tidak akan terjadi, ini yang terpenting.

 

Referensi bacaan :
http://agribisnis.deptan.go.id/disp_informasi/1/3/44/1073/bioenergi_berbasis_eceng_gondok.html

http://www.indosiar.com/fokus/61903/pemanfaatan-enceng-gondok

http://herihery.blogspot.com/2009/01/eutrofikasi.html


http://www.karawanginfo.com/?p=6587

http://www.scribd.com/doc/15254399/EUTROFIKASI


http://www.pupuk-kompos.info/2011/08/kompos-berbahan-eceng-gondok-danau-bagi.html

http://www.biogas-energi.biz/2011/08/potensi-energi-bahan-bakar-dan-listrik.html
readmore »
6
[Lomba Blog] "Ketika Ilmu Tersentuh Nilai" | Bismillahirohmanirohim

Assallamualaikum,  :)


Nama saya Noor .... Noor Widayat, mahasiswa pindahan dari universitas lain. Mungkin tak banyak orang seberuntung diriku. Telah kutempuh banyak sks ataupun teori, namun masih diberi kesempatan Allah untuk menimba ilmu lagi.

Tak pernah terlintas dalam pikiranku tentang nilai dalam setiap ilmu yang kuterima (dulu aku berpandangan Ilmu lepas dari Nilai). Mungkin dulu pernah diingatkan tentang nilai tetapi ingatan dan keteledoranku ... aku lupa. :(



Setelah perkuliahan di UMY dimulai, kelas pertama yang kumasuki adalah Tafsir Tematik Pertanian. Salah satu pintu masuk dalam diriku untuk memberi nilai keIslaman dalam setiap ilmu yang kupelajari. Nilai yang seharusnya melekat dalam setiap ilmu, agar tak tersesat.

Mungkin bagi orang lain, hal tersebut bukanlah hal yang penting. Namun bagiku, ini adalah penemuan terbesar yang pernah aku dapat. Dan semoga Allah selalu memberi petunjuk.

Wassallamualaikum,  :)
readmore »